Pada
tahun 90an jilbab masih sulit dikenakan dinegeri ini, banyak alasan
yang melatar belakanginya. Salah satu kabar yang beredar pemerintah
melarang muslimah memakai jilbab karena bisa dianggap SARA, faktor lain
yang membuat muslimah malu dan males memakai jilbab karena orang yang
berjilbab kadang dianggap kampungan, tidak modern, dan tidak trendy.
Sebab model jilbab atau kerudung waktu itu hanya begitu begitu saja,
yang sudah berjilbab pun kadang merasa ribet, kedodoran, tidak praktis
dan tidak modis.
Di
tahun 2010 model berbagai jilbab mamprah dipasaran, dari model jilbab
instan, jilbab gaul, dan jilbab jilbab lainya. Sehingga dengan
boomingnya model-model jilbab tersebut membuat para muslimah bersemangat
dan tidak malu lagi untuk memakai jilbab. Fenomena seperti ini membuat
kita bersyukur di satu sisi, tetapi disisi lain jilbab yang seharusnya
memenuhi syarat syar’i telah beralih fungsi.
Jilbab bisa dijadikan sebagai perisai, pelindung, dan identitas seorang muslimah pastinya. jika kita belum bisa ketingkat identitas, minimal kita usahakan ketingkat awal yaitu sebagai perisai. Karena biasanya orang yang menggganggap jilbab sebagai identitas dirinya akan berbeda memahaminya dibandingkan dengan orang yang baru “ sekedar” berjilbab.
Kadang ada orang yang berkomentar, “ ah saya belum mau berjilbab, menjilbabi hati saja belum bisa, nanti kalau hati sudah terjilbabi baru menjilbabi rambut” . komentar seperti ini mungkin memang bisa kita maklumi bagi mereka yang belum paham tentang perintah berjilbab, karena semua butuh proses, dan proses itu tidak bisa dipaksakan, akan sangat sulit dan memerlukan waktu yang panjang. Tetapi kalau tidak pernah ada usaha, kapan kita akan menjadi lebih baik, selama hati kita masih sulit untuk “dijilbabi” berarti selama itu pula kita belum akan berjilbab. Ada juga sebagian orang mengatakan keimanan tidak harus dilihat dari simbol simbol yang dipakai atau yang ada, tetapi bukankah iman itu juga tidak cukup hanya dihati ? harus diucapkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan, tiga hal tersebut yang akan membuat sempurnanya iman.
Jilbab bisa dijadikan sebagai perisai, pelindung, dan identitas seorang muslimah pastinya. jika kita belum bisa ketingkat identitas, minimal kita usahakan ketingkat awal yaitu sebagai perisai. Karena biasanya orang yang menggganggap jilbab sebagai identitas dirinya akan berbeda memahaminya dibandingkan dengan orang yang baru “ sekedar” berjilbab.
Kadang ada orang yang berkomentar, “ ah saya belum mau berjilbab, menjilbabi hati saja belum bisa, nanti kalau hati sudah terjilbabi baru menjilbabi rambut” . komentar seperti ini mungkin memang bisa kita maklumi bagi mereka yang belum paham tentang perintah berjilbab, karena semua butuh proses, dan proses itu tidak bisa dipaksakan, akan sangat sulit dan memerlukan waktu yang panjang. Tetapi kalau tidak pernah ada usaha, kapan kita akan menjadi lebih baik, selama hati kita masih sulit untuk “dijilbabi” berarti selama itu pula kita belum akan berjilbab. Ada juga sebagian orang mengatakan keimanan tidak harus dilihat dari simbol simbol yang dipakai atau yang ada, tetapi bukankah iman itu juga tidak cukup hanya dihati ? harus diucapkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan, tiga hal tersebut yang akan membuat sempurnanya iman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar